Menjaga Tradisi Laut Melayu, Nelayan Muntai Gotong Royong Turunkan Perahu Baru

Gotong Royong Penurunan Perahu Nelayan Desa Muntai

Menjaga Tradisi Laut Melayu, Nelayan Muntai Gotong Royong Turunkan Perahu Baru

Jumat,19 Juni 2026 - 09:43:am WIB | Oleh: Administrator


Muntai, 19 Juni 2026 – Tradisi adat Melayu yang telah diwariskan secara turun-temurun kembali dilestarikan oleh masyarakat nelayan Desa Muntai. Pada Jumat (19/06/2026), warga nelayan bergotong royong menurunkan sebuah perahu baru milik M. Husni ke perairan desa dengan penuh khidmat dan semangat kebersamaan.

Sebelum prosesi penurunan perahu dilaksanakan, pemilik perahu menggelar kenduri sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus memohon keselamatan dan keberkahan bagi perahu yang akan digunakan untuk mencari nafkah di laut. Dalam kenduri tersebut, sohibul hajat menyediakan berbagai hidangan dan perlengkapan adat yang menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Melayu Muntai.

Beberapa perlengkapan adat yang digunakan antara lain Pulut Kunyit, Bubur Merah Putih, dengan ciri khas tradisi laut yaitu bubur putih yang lebih banyak dibandingkan bubur merah, Bertih, Pisang, Telur Rebus yang telah dikupas, serta Tepung Tepung Tawar sebagai simbol doa, keselamatan, dan keberkahan. Acara kemudian dilanjutkan dengan doa bersama yang dihadiri keluarga, tokoh masyarakat, dan para nelayan.

Sebelum perahu diturunkan ke laut, Penghulu Adat, Kepala Desa Muntai, atau pihak yang mewakili terlebih dahulu membacakan sholawat di atas perahu sebagai bentuk ikhtiar spiritual dan penghormatan terhadap tradisi yang telah diwariskan oleh para leluhur. Suasana penuh khidmat menyelimuti prosesi tersebut, diiringi harapan agar perahu yang baru dapat membawa manfaat bagi pemiliknya.

Setelah seluruh rangkaian adat selesai dilaksanakan, puluhan nelayan dan warga Desa Muntai secara bersama-sama bergotong royong menurunkan perahu ke perairan. Dengan semangat persaudaraan dan kebersamaan, proses penurunan perahu berlangsung lancar dan penuh kegembiraan.

Kepala Desa Muntai dalam keterangannya menyampaikan bahwa tradisi penurunan perahu merupakan warisan budaya masyarakat Melayu pesisir yang telah lama dipraktikkan oleh para leluhur.

“Tradisi ini sudah lama digunakan oleh para leluhur kita. Selain sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, tradisi ini juga menjadi doa bersama untuk memohon keselamatan, keberkahan, serta keluasan rezeki bagi para nelayan yang mencari nafkah di laut. Kita berharap adat dan budaya seperti ini terus dilestarikan oleh generasi muda,” ujar Kepala Desa Muntai.

Tradisi penurunan perahu bukan hanya menjadi simbol dimulainya perjalanan sebuah perahu baru, tetapi juga menjadi sarana mempererat tali silaturahmi, memperkuat nilai gotong royong, serta menjaga kelestarian adat istiadat Melayu yang menjadi identitas masyarakat Desa Muntai hingga saat ini. (NN)

Tulis Komentar

img